Mengenal Ciri-Ciri Kepribadian Ganda

Apakah anda mempunyai teman yang terlihat kadang-kadang berbeda dalam hal penampilan, gaya bicara, atau mungkin tidak mengenali anda seperti biasanya. Mungkin dalam pikiran anda, teman saya ini pasti berpura-pura tidak mengenal saya, atau mengira bahwa dia sombong? Boleh-boleh saja berpikir seperti itu, tetapi pikirkan kemungkinan yang lain, bisa saja ternyata teman anda ini memiliki gangguan kepribadian multipel atau yang lebih sering disebut kepribadian ganda.

Mari kita lihat apa yang sebenarnya disebut dengan kepribadian ganda?

Gangguan kepribadian ganda atau yang disebut dengan gangguan identitas disosiatif menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) adalah gangguan disosiatif yang bersifat kronis dan penyebabnya khas yaitu peristiwa traumatik, biasanya penyiksaan seksual atau fisik pada masa kanak-kanak. Seseorang dengan gangguan identitas disosiatif memiliki dua kepribadian atau lebih yang berbeda, dimana masing-masing berdiri sendiri dan menentukan perilaku dan sikap selama periode tertentu atau terhadap kejadian tertentu.

Jumlah pasien yang memiliki kepribadian ganda adalah sekitar 0,5 – 3 % dari total pasien yang berkunjung ke klinik psikiatrik. PasienĀ  yang didiagnosis gangguan identitas disosiatif sebagian besar adalah perempuan, rasio perempuan banding laki-laki 5:1 hingga 9:1. Gangguan ini paling sering ditemukan pada masa remaja sampai dewasa muda, dengan usia rata-rata 30 tahun.

Penyebab dari gangguan ini masih belum diketahui secara pasti, walaupun pada hampir semua pasien melibatkan peristiwa traumatik pada masa kanak-kanak. Peristiwa traumatik biasanya berupa penyiksaan secara seksual atau fisik yang lazimnya melibatkan hubungan sedarah. Peristiwa traumatik yang lain dapat berupa kematian kerabat atau teman atau menyaksikan suatu kejadian traumatik atau kematian.

Kriteria gangguan kepribadian multipel menurut DSM-IV :

  1. Adanya dua kepribadian atau lebih dengan identitas yang berbeda`
  2. Paling sedikit dua identitas atau kepribadian tersebut secara berulang mengambil kendali perilaku individu tersebut.
  3. Tidak mampu mengingat informasi personal yang penting yang tidak bisa dijelaskan dengan lupa yang biasa. Dengan kata lain sering merasa lupa atau “kehilangan waktu” misalnya Tidak ingat apa yang dilakukan 2 jam yang lalu.
  4. Gangguan tersebut tidak disebabkan efek fisiologik langsung penggunaan zat ( misalnya hilang kesadaran atau perilaku kacau selama intoksikasi alkohol), atau pada kondisi medik umum (kejang parsial komplek)

Kepribadian yang utama adalah kepribadian yang datang mencari terapi dan memiliki nama pasien yang sebenarnya. Kepribadian sekunder dapat timbul secara spontan atau saat ada pencetus (hypnosis atau wawancara dibantu obat), kepribadian ini mencakup dua jenis kelamin dari berbagai usia dan ras, dan juga dari keluarga yang berbeda dengan keluarga asal pasien. Pada pemeriksaan pasien sering menunjukkan tidak adanya kelainan atau gangguan pada status mentalnya selain periode amnesia dengan durasi yang beragam.

Kepribadian ganda biasanya akan terungkap melalui wawancara yang lama, melalui kontak dengan orang disekitar pasien, dan juga dengan meminta pasien menulis buku harian. Perpindahan dari satu kepribadian ke kepribadian yang lain dapat terjadi secara tiba-tiba dan dramatik. Selama kepribadian yang dominan mengambil alih, maka kepribadian yang lain akan mengalami amnesia. Setiap kepribadian memiliki rangkaian daya ingat dan sikap khas, hubungan pribadi, serta pola perilaku tertentu. Kepribadian ini memiliki nama yang sesuai dengan fungsinya contohnya sang pelindung.

Gangguan identitas disosiatif harus dibedakan dengan amnesia disosiatif dan fugue disosiatif, dimana pada keduanya tidak ada pergantian identitas dan ada kesadaran mengenai identitas asli. Gangguan kepribadian ganda juga harus dibedakan dengan skizofrenia, dimana pada skizofrenia terdapat waham yang mengambarkan bahwa pasien memiliki kepribadian lain atau dapat mendengarkan suara kepribadian lainnya. Gangguan yang cukup sulit dibedakan dengan gangguan identitas disosiatif adalah malingering, hal ini dapat ditegakkan dengan wawancara dengan bantuan obat.

Semakin dini onset dari gangguan identitas disosiatif maka semakin buruk juga prognosisnya. Pada satu atau lebih kepribadian dapat ditemukan gangguan jiwa berupa gangguan mood, gangguan kepribadian, dan gangguan disosiatif lain.

Terapi yang paling efektif untuk gangguan identitas disosiatif meliputi psikoterapi disertai hipnoterapi, terapi ini untuk memulai penyatuan kembali seluruh kepribadian sekunder yang muncul. Penyatuan ini juga mencakup kepribadian yang bersifat merusak diri atau kekerasan, jadi semua kepribadian yang baik atau pun tidak baik harus disatukan.

 

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com