Penatalaksanaan Pasien dengan Pankreatitis Akut : Contoh Kasus

Pankreatitis akut: contoh kasus

Seorang pasien, perempuan 25 tahun datang ke ruang gawat darurat dengan keluhan sakit perut hebat dan muntah-muntah sejak 2 hari ini. Nyeri perut dirasakan terutama dibagian kiri atas dan terasa terus menerus. Nyeri bertambah setelah pasien makan sesuatu. pasien juga mengeluh mual muntah dan badan meriang. Pasien tidak mempunyai riwayat penyakit seperti diabetes sebelumnya. Pemeriksaan tanda-tanda vital adalah TD: 110/70 mmHg, nadi: 110 kali per menit, Temperatur: 38, 1 derajat C, Respirasi rate: 20 kali per menit dan saturasi oksigen 98% room air. Pemeriksaan fisik menunjukkan nyeri tekan abdomen, tidak ada defans muskular maupun distensi abdomen. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan peningkatan kadar enzim amilase dan lipase darah. Yaitu: amilase: 900 U/L dan lipase 1200 U/L. Kemudian dilakukan USG abdomen dan menunjukkan peradangan pada pankreas.

Pankreatitis akut merupakan salah satu penyakit saluran cerna yang paling sering ditemui di ruang gawat darurat rumah sakit. Pankreatitis akut adalah penyakit inflamasi pada pankreas dengan manifestasi klinis yang bervariasi, mulai dari ringan sampai dengan berat dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Menurut The American College of Gastroenterology (ACG) 2013, diagnosa pankreatitis akut dapat ditegakkan apabila terdapat 2 dari 3 kriteria dibawah ini:

1. Adanya nyeri perut yang konsisten

2. Peningkatan serum amilase dan lipase lebih dari 3 kali batas normal

3. Hasil pemeriksaan USG/ CT scan atau MRI menunjukkan karakteristik pankreatitis akut.

Penyebab Pankreatitis Akut

Penyebab nomor satu pankreatitis akut adalah batu empedu. Adanya batu empedu dapat menyebabkan penyumbatan pada spinkter Oddi yaitu tempat dimana enzim prankreas disalurkan ke duodenum. Hal ini akan menyebabkan penumpukan enzym digestif didalam pankreas dan akan mencerna sel-sel pankreas itu sendiri sehingga menyebabkan peradangan pankreas.

Penyebab nomor 2 acute pancreatitis adalah konsumsi alkohol. Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat menyebabkan pankreatitis akut melalui mekanisme yang kompleks. Konsumsi alkohol yang dapat menimbulkan acute pancreatitis adalah sekitar 4-5 gelas per hari selama  bertahun-tahun.

Penyebab pankreatitis yang lain adalah hipertrigliseridemia ( > 1000 mg/dL), Hiperkalsemia dan efek samping dari prosedur ERCP (Endoscopic retrograde cholangiopancreatography).

Etiologi acute pancreatitis penting untuk diidentifikasi karena akan menjadi acuan terapi pada kondisi yang akut.

Prediksi tingkat keparahan pankreatitis akut

Pasien dengan acute pancreatitis dapat mengalami kerusakan organ dan gangguan hemodinamik yang signifikan sehingga perlu dipertimbangkan untuk perawatan di Intensive Care Unit (ICU). Beberapa parameter yang dapat digunakan untuk menilai tingkat keparahan dan prognosis acute pancreatitis yaitu:

1. Kriteria Modifikasi Ranson

Saat masuk RS

– Usia > 70 tahun

– leukosit > 18000/UL

– Glukosa > 220 IU/L

– AST/SGOT > 210 IU/L

Setelah 48 jam di RS

– penurunan hematokrit > 10%

– kalsium serum < 8 mg/dl

– Base deficit > 5 meq/L

– Peningkatan BUN > 2 mg/dl

– Sekuestrasi cairan > 6 L

– PO2 arteri < 60 mmHg

Apabila terdapat 3 atau lebih faktor risiko diatas maka pasien termasuk kedalam kriteria berat

Penatalaksanaan Pasien dengan Acute Pancreatitis

1. Puasa

Pasien dengan acute pancreatitis akan dianjurkan untuk puasa selama beberapa hari agar inflamasi pada pankreas sembuh. Pasien biasanya boleh mulai makan makanan cair apabila nyeri perut sudah tidak ada dan parameter infeksi tidak meningkat. selama puasa pasien akan diberikan nutrisi secara parenteral atau melalui selang nasogastrik  (NGT) atau selang nasojejunal (NJT).

2. Terapi Cairan

resusitasi cairan yang adekuat harus diberikan kepada semua pasien dengan acute pancreatitis kecuali apabila terdapat kelainan kardiovaskular dan gagal ginjal. Resusitasi cairan harus dimulai pada 12-14 jam pertama dengan menggunakan infus cairan kristaloid seperti Ringer laktat sebanyak 250-500 ml/jam.

3. Manajemen Nyeri

Pasien dengan acute pancreatitis pada umumnya mengalami nyeri perut yang hebat. Karena itu analgesik golongan opioid kecuali morfin dapat diberikan untuk meredkan nyeri.

4. Terapi antibiotik

Pemberian antibiotik profilaksis secara rutin tidak dianjurkan pada pasien dengan pankreatitis akut berat atau pada nekrosis steril. Antibiotik seperti karbapenem, kuinolon dan metronidazole direkomedasikan pada pasien dengan nekrosis yang terinfeksi. Keadaan nekrosis yang terinfeksi ini harus dicurigai pada pasien yang mengalami penurunan kondisi atau tidak ada perbaikan kondisi setelah masa perawatan 7 sampai 10 hari.

5. Terapi bedah

Tindakan bedah dilakukan pada keadaan:

– Pankreatitis akut ringan yang disebabkan oleh  batu empedu

– Pada pasien dengan nekrosis yang terinfeksi, pembedahan dilakukan bila kondisi pasien sudah stabil dan jaringan nekrosis telah terbungkus kapsul yang tebal (Walled-off necrosis).

– Terapi pembedahan juga diindikasikan apabila terjadi komplikasi seperti pembentukan abses atau pseudokista, ileus karena obstruksi pada kolon atau duodenum dan adanya perdarahan hebat retroperitoneal dan intestinal.

6. ERCP (Endoscopic retrograde cholangiopancreatography)

Pasien dengan pankreatitis akut yang disertai kolangitis akut atau obstruksi bilier harus menjalani ERCP dalam waktu 24 jam pertama masa perawatan.

ERCP biasanya tidak diperlukan pada pasien dengan pankreatitis akut akibat batu empedu yang tidak disertai adanya tanda-tanda obstruksi bilier.

 

Mengenali Gejala dan Penanganan Infeksi Virus Zika

Virus Zika adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegepty, jenis nyamuk yang sama yang menyebarkan virus demam berdarah atau dangue. Apabila ibu yang sedang hamil terinfeksi virus ini, maka dapat menyebabkan janin terlahir dengan ukuran  otak yang lebih kecil dari ukuran yang normal (mikrosefali) seperti yang terjadi di Brazil pada tahun 2015 kemarin.

Selain ukuran otak yang kecil, janin yang terlahir dari ibu yang terinfeksi Zika virus dapat mengalami kecacatan dan gangguan neurologis  seperti kejang, buta, tuli, kecerdasan yang rendah dan gangguan-gangguan yang lain.

Gejala – gejala yang timbul akibat infeksi zika virus adalah:

Tanda dan gejala Zika virus mirip dengan gejala Demam berdarah dan dapat berlangsung selama 2 sampai 7 hari. Gejala-gejala yang muncul diantaranya adalah:

  • demam, suhu tubuh antara 37, 8 sampai 38, 5
  • nyeri otot seluruh tubuh
  • sakit kepala terutama di bagian belakang mata
  • mata merah
  • timbul bintik-bintik merah di kulit
  • sakit pada persendian, terutama sendi tangan  dan kaki
  • lemah, letih dan lesu

Diagnosa pasti infeksi Zika virus hanya dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah (bisa juga urine dan cairan serebrospinalis ) untuk mendeteksi adanya virus Zika  di dalam tubuh atau Antibody yang spesifik terhadap Zika virus.

Penyebaran Virus Zika

Penyebaran Zika virus dapat terjadi dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Gigitan nyamuk aedes aegepty yang telah terinfeksi oleh Zika virus
  2. Melalui transfusi darah dan hubungan seksual
  3. Penularan dari ibu hamil kepada janinnya

Pengobatan dan Perawatan pasien yang terinfeksi Zika Virus

  • Sampai saat ini tidak ada vaksin untuk Zika virus
  • pengobatan bertujuan untuk mengurangi gejala dan bergantung pada kondisi pasien, misalnya pemberian anti piretik. anti nyeri infus dan vitamin.
  • tidak ada obat atau anti virus yang spesifik untuk Zika virus
  • Pencegahan dari gigitan nyamuk adalah langkah yang sangat penting,  misalnya dengan menggunakan lotion anti nyamuk dan selalu menggunakan baju berlengan panjang.
  • Ruangan yang menggunakan pendingin udara akan mengurangi jumlah nyamuk Aedes aegepty yang  bersarang di ruangan tersebut.

Kelompok yang beresiko tinggi terkena infeksi Zika virus

  1. Semua orang mempunyai resiko terkena Zika virus, terutama orang-orang dengan system imun tubuh yang rendah.
  2. Orang lanjut usia
  3. Bayi yang ibunya terkena infeksi Zika Virus pada saat kehamilan.

Untuk informasi lebih lanjut dapat mengunjungi website WHO berikut

http://www.who.int/mediacentre/factsheets/zika/en/

Penatalaksanaan Pasien dengan Infark Miokard Akut

Pasien yang datang ke UGD itu bermacam-macam kasusnya, ada yang benar-benar gawat, ada yang kesakitan, ada yang teriak-teriak gak jelas, ada pula yang cuma cari perhatian pasanganya alias pura-pura sakit atau pura-pura pingsan. Karakteristik orangnya juga beda-beda, ada yang kritis, ada yang nanya macam-macam tapi gak nyambung, ada yang minta cepat-cepat, ada pula yang diem diem aja sampai suka kelewat gak keperiksa saking ramenya UGD. Kasus kegawatan yang paling sering di UGD tempat saya bekerja adalah infark Miokard Akut, stroke dan kecelakaan lalu lintas.

Kemarin waktu saya jaga shift pagi, kira-kira jam 13. 30 (jam-jam genting) datang pasien laki-laki (56 tahun), sebut saja namanya Bpk  T, dengan keluhan nyeri dada yang tidak khas, nyeri tidak menjalar ke lengan kiri maupun punggung, nyeri mulai terasa sekitar satu jam sebelum masuk Rumah Sakit, mual tidak ada, penurunan kesadaran juga tidak ada. Waktu saya tanya skala nyeri (0-10), Bpk T mengatakan sekitar 4 atau 5. Semua tanda-tanda vital pada saat itu masih normal: Tensi 130/80, nadi: 85, Respirasi rate: 18 dan suhu 36, 8. Saturasi okesigen room air 97%. Bpk T juga mengatakan tidak pernah mengalami nyeri dada sebelumnya, tidak punya riwayat tekanan darah tinggi atau penyakit jantung koroner sebelumya.

Walaupun Bpk T kelihatan baik-baik saja, tapi karena mengeluh nyeri dada, maka saya minta untuk di EKG, dan ternyata EKG Bpk T menunjukan STEMI inferior (ST elevasi miokard infark inferior).

Dari hasil EKG diatas terlihat adanya ST elevasi yang signifikan di lead II, III dan aVF (inferior) dan ST depresi di Lead 1 dan aVL yang merupakan lead reciprocal  untuk lead inferior. Hal ini menunjukkan adanya STEMI inferior yang memerlukan penatalaksanaan terapi reperfusi vaskuler yang cepat dan tepat yang dapat dilakukan dengan menggunakan fibrinolisis maupun PCI (percutaneous coronary intervention).

penatalaksanaan pasien dengan STEMI dimulai dengan pemberian  CPG 75 mg 4 tablet P.O atau aspirin 300 mg Per oral dan Nitrat untuk untuk meredakan nyeri dada, misalnya Cedocard 5 mg sublingual. Tapi ternyata tekanan darah Bpk T turun menjadi 90/70 mmHg, Karena itu hanya CPG tetap diberikan dan Cedocard ditunda karena pemberian Cedocard (isosorbide dinitrate) tidak diperbolehkan pada pasien yang mengalami hipotensi, anemia berat dan syok cardiogenik. Morphine harus diberikan apabila nitrat tidak mampu untuk meredakan nyeri dada

Suplemen oksigen harus diberikan apabila SPO2 < 93% atau pasien dalam kondisi Syok. Untuk lebih mudah mengingat terapi obat yang harus diberikan pada pasien dengan infark miokard, gunakanlah singkatan MONA:

M: Morphine

O: Oksigen

N: Nitrat

A: Aspirin/ CPG

Terapi Fibrinolitik

Sebagaimana yang telah disebutkan diatas bahwa ada dua terapi utama untuk memulihkan aliran darah jantung pada pasien yang mengalami infark miokard yaitu: terapi fibrinolitik dan PCI (percutaneous coronary intervention). pada kesempatan ini saya akan membahas terapi fibrinolitik yang diberikan kepada pasien Bpk T.

Fibrinolitik atau disebut juga trombolitik adalah obat yang dapat memecah atau menguraikan bekuan darah (trombus) yang menyumbat pembuluh darah jantung. Terapi referfusi dengan  fibrinolitik hanya dapat dilakukan dalam waktu kurang dari 12 jam setelah onset nyeri dada.  Apabila dilakukan dalam waktu lebih dari 12 jam setelah onset gejala,  maka reperfusi tidak akan efektif, dan lebih baik tidak dilakukan karena resiko perdarahan yang sangat tinggi. Karena itu, kita sebagai tenaga kesehatan dituntut untuk mempu menggali informasi tentang riwayat penyakit pasien dengan sebaik-baiknya, terutama yang berhubungan dengan onset nyeri dada. Apabila pasien tidak tahu atau kurang yakin  dengan kapan  mulainya nyeri dada,  maka kita harus dapat memodifikasi pertanyaan kita. Contohnya seperti berikut:

“Apa yang ibu/bapak lakukan ketika timbul nyeri dada tersebut?”

“Pada saat nyeri dada apakah ibu/Bapak sedang menonton TV?, acara apa yang Ibu/Bapak tonton? (kemudian kita bisa melihat jam berapa acara tersebut tayang di televisi)

“Pada saat nyeri dada timbul, apakah Ibu/Bapak menggunakan handphone? (jika iya kita bisa melihat jam berapa pasien tersebut menggunakan telepon genggam nya).

Perlu kita ingat bahwa pemberian terapi trombolitik adalah kontra indikasi pada keadaan-keadaan seperti:  adanya riwayat stroke hemoragik dalam satu tahun terakhir, neoplasma intra kranial, ada perdarahan internal yang aktif dan suspect aortic disection. Sementara itu, pemberian trombolitik harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati pada keadaan-keadaan seperti: hipertensi berat, pasien yang menggunakan anti koagulan seperti warfarin, pasien – pasien  yang mengalami trauma atau pembedahan besar dalam 3 minggu terakhir dan pada kehamilan. Karena itu sebelum memberikan terapi trombolisis, biasanya ada check list yang harus kita isi terlebih dahulu.

Ateplase atau Recombinant tissue plasminogen activator (rt-PA) merupakan salah satu contoh obat trombolitik yang biasanya diberikan pada pasien dengan infark miokard akut. Pemberian  obat ini hanya boleh dilakukan via infus dengan menggunakan syringe pump atau infus pump dengan dosis maksimal 0. 9 mg per Kg berat badan.

Link dibawah ini berisi tentang cara mendeteksi dan penanganan awal serangan jantung dari Australian Resuscitation Council.

https://resus.org.au/guidelines/

 

 

 

 

Mengenali Gejala Post Traumatik Amnesia

Amnesia atau lupa ingatan adalah suatu keadaan dimana seseorang tiba-tiba lupa dan tidak dapat mengingat nama-nama teman dekat atau keluarganya dan tidak dapat mengidentifikasi  tempat, waktu atau kejadian tertentu. Amnesia dapat disebabkan beberapa hal diantaranya gangguan mental, stress yang berat dan kecelakaan/perkelahian yang menyebabkan geger otak atau benturan pada kepala. Amnesia yang terjadi setelah geger otak/cedera otak/benturan pada kepala dinamakan post traumatik amnesia (PTA) dan terjadi segera setelah kecelakaan dan dapat berlangsung selama beberapa detik, jam, hari, bahkan berbulan-bulan. Nah bagaimana cara kita mengenali gejala post traumatik amnesia?. Bagaimana kita mengetahui apakah seseorang benar-benar mengalami amnesia atau hanya berpura-pura tidak ingat?

Secara garis besar amnesia dibedakan menjadi dua jenis yaitu amnesia anterograde dan amnesia retrograde. Amnesia anterograde adalah ketidakmampuan mengingat pengalaman yang terjadi setelah amnesia menyerang, misalnya tidak mampu mengingat kejadian kecelakaan yang baru saja dialami. Contoh lain adalah tidak mampu mengingat nama seseorang yang baru beberapa saat yang lalu diperkenalkan. Karena seseorang yang mengalami amnesia anterograde tidak mampu menciptakan memori yang baru, maka orang tersebut akan mengalami kesulitan dalam belajar dan mengingat informasi yang baru. Sementara itu, amnesia retrograde adalah ketidakmampuan mengingat memori jangka panjang, yaitu pengalaman-pengalaman yang terjadi sebelum amnesia menyerang. Orang yang mengalami amnesia retrograde tidak akan lupa cara menyetir mobil atau bersepeda, tapi dia tidak mempu mengingat pengalaman masa lalu, misalnya apa yang dia lakukan sebelum kecelakaan itu terjadi. Post-traumatik amnesia itu sendiri dapat berupa amnesia anterograde maupun amnesia retrograde, namun  amnesia anterograde lebih sering terjadi pada kasus post-traumatik amnesia.

Ciri-ciri orang yang mengalami post-traumatik amnesia diantaranya adalah bingung, tidak tau dimana mereka berada saat ini atau hari apa sekarang dan terus menerus menanyakan hal yang sama atau terus menerus melakukan hal yang sama, misalnya terus menerus memperbaiki kancing baju, dsb. Orang yang mengalami PTA juga akan mengalami kesulitan untuk melakukan hal-hal yang sepele, misalnya bingung apa saja yang harus disiapkan ketika akan mandi. Selain gangguan memori, orang yang mengalami post traumatik amnesia juga dapat mengalami keluhan-keluhan fisik seperti sakit kepala, mual muntah, dan tidak tahan dengan suara bising atau lampu yang sangat terang. Tanda-tanda post-traumatik amnesia lain diantaranya perubahan emosi yang drastis, misalnya dari pendiam menjadi sangat cerewet, atau menjadi kasar dan mudah tersinggung dan suka mondar-mandir dengan tujuan yang tidak jelas.

Hampir setiap orang yang mengalami cedera otak tertutup (Closed head injury) baik akibat kecelakaan, jatuh maupun perkelahian akan mengalami post-traumatik amnesia yang durasi dan intensitasnya berbeda-beda. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengukur berat ringannya amnesia yang dialami oleh seseorang, salah satunya dengan menggunakan the Westmead PTA scale. Skala ini telah digunakan secara international untuk mengetahui apakah seseorang benar-benar  mengalami post-traumatik amnesia. Skala “Westmead” berisi 12 pertanyaan yang akan mengukur tingkat orientasi seseorang terhadap nama, tempat dan waktu, sekaligus mengukur kemampuan orang tersebut untuk menerima informasi baru. 12 pertanyaan tersebut adalah:

  1. Berapa umurmu?
  2. Sebutkan tanggal kelahiranmu
  3. Bulan apa sekarang?
  4. Jam berapa sekarang? (Boleh dijawab pagi, siang, sore atau malam)
  5. hari apa sekarang?
  6. Tahun berapa sekarang?
  7. Nama tempat ini apa? (RS, Klinik, dll.)

Pertanyaan ke 8 sampai 12 adalah pertanyaan untuk mengukur kemampuan seseorang menerima informasi yang baru.

8. Tunjukkan sebuah foto kepada pasien yang mengalami amnesia, minta pasien tersebut untuk mengingat nama orang didalam foto tersebut. Satu jam kemudian cek apakah pasien tersebut masih mengingat foto beserta namanya.

9. Perkenalkan nama anda kepada pasien. Kemudian cek apakah pasien tersebut masih mengingat nama anda setelah satu jam dan keesokkan harinya.

untuk pertanyaan 10. 11 dan 12. Tunjukkan gambar 3 buah benda, misalnya misalnya gambar gelas, kunci dan meja. Tunjukan gambar tersebut selama kurang lebih 10 detik dan minta pasien untuk mengingatnya. Kemudian , setelah satu jam minta pasien untuk menyebutkan kembali 3 benda tersebut.

Apabila pasien  dapat menjawab dengan benar ke 12 pertanyaan tersebut diatas, maka artinya pasien tersbut tidak mengalami post traumatik amnesia. Apabila pasien tersebut salah atau tidak dapat menjawab satu atau lebih dari 12 pertanyaan diatas, maka pasien tersebut sedang mengalami post-traumatik amnesia dan menandakan bahwa cedera otak yang dideritanya cukup berat.

Penjelasan lebih lengkap mengenai cara mengukur post-traumatik amnesia dengan menggunakan skala “Westmead”, dapat dilihat di website: http://www.psy.mq.edu.au/pta/

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk membantu keluarga atau teman yang sedang mengalami post-traumatik amnesia. Yang pertama. jangan membangunkan penderita PTA yang sedang tidur karena istirahat yang cukup sangat penting untuk pemulihan dari amnesia. Bangunkan hanya untuk makan atau minum obat atau untuk prosedur yang penting. Yang kedua, jaga suasana lingkungan  untuk tetap tenang dan tidak ribut, hindari menggunakan laptop atau telephone genggam. Jika ada yang berkunjung, batasi hanya 1 sampai 2 orang pada saat yang bersamaan. Bantu penderita PTA untuk mengingat dengan memperlihatkan foto keluarga atau barang-barang pribadi yang bermakna, seperti syal, mainan atau ornamen tertentu. Yang terakhir yang harus diingat adalah orang yang menderita post-traumatik amnesia akan mengalami kesulitan dalam mencerna kata-kata, sehingga berbicaralah dengan kata-kata yang simple dan tidak rumit dan dengan kalimat-kalimat yang singkat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com