Stevens Johnson Syndrome (SJS) – Pengalaman pribadi

  • Sekitar tahun 2014, Ibu saya terkena penyakit alergi yang sangat hebat yang membuat seluruh kulit tubuhnya mengelupas seperti terbakar. Saat itu, Ibu mengonsumsi obat Carbamazepin untuk meredakan nyeri akibat Herpes Zoster di kaki yang membuat ibu saya sangat kesakitan. Mula-mula kulit sekitar wajah tampak memerah dengan rasa terbakar yang hebat. Beberapa jam kemudian kulit di wajah Ibu saya meleleh dan terkelupas yang di ikuti kulit di seluruh tubuh. Kemudian saya sadar bahwa Ibu saya terkena Stevens-Johnson Syndrome atau SJS.
Stevens-Johnson Syndrome

Carbamazepin memang merupakan salah satu obat yang paling sering menyebabkan Stevens-Johnson Syndrome. Obat-obat lain yang dilaporkan sering menyebabkan reaksi alergi berat ini adalah:

  • Allopurinol
  • obat anti nyeri seperti ibuprofen, acetaminofen, sodium diklofenak dan naproxen sodium
  • antibiotik terutama penicillin
  • obat anti kejang dan anti psikotik seperti carbamazepin, fenitoin dan phenobarbital

Selain obat obatan, SJS juga dapat dipicu oleh infeksi yaitu Pneumonia, Human immunodeficiency virus (HIV), Hepatitis dan Herpes (baik herpes simpleks maupun herpes zoster).

Orang yang menderita SJS dapat mengalami stress, depresi maupun rasa takut yang hebat. Sama seperti yang dialami oleh Ibu saya yang waktu itu harus dirawat secara intensive selama lebih dari 2 minggu di rumah sakit.  Sampai saat ini tidak ada metode atau test diagnostik yang dapat dilakukan untuk memprediksi kemungkinan seseorang akan mengalami SJS. Namun, ada beberapa faktor resiko yang menyebabkan seseorang akan lebih rentan terkena SJS, diantaranya yaitu pernah mengalami SJS sebelumnya, mempunyai riwayat SJS dalam keluarga terutama orang tua, dan mempunyai gangguan sistem imun seperti HIV.

Jika anda sedang mengonsumsi obat-obatan (terutama yang baru) dan mengalami gejala-gejala dibawah ini, sebaiknya langsung menghentikan penggunaan obat-obatan tersebut. Gejala-gejala awal dari Stevens-Johnson syndrome adalah:

  • Kemerahan pada kulit yang terasa sakit seperti terbakar dan mengelupas
  • Terdapat blister (kulit yang melepuh berisi air) pada sekitar daerah mulut, kulit, hidung dan daerah genitalia
  • Mata merah, pedih dan berair.

Penelitian-penelitian yang telah dilakukan diberbagai negara termasuk di Indonesia menunjukkan bahwa Perempuan lebih banyak menderita  SJS di bandingkan laki-laki dan usia terbanyak menderita SJS adalah diatas 40 tahun.

Penanganan Stevens-Johnson Syndrome

Pasien yang mengalami SJS harus dirawat di rumah sakit dan biasanya memerlukan perawatan intensive di ruang Intensive Care Unit (ICU), isolasi atau High Care Unit (HCU). Tindakan pertama yang harus dilakukan adalah menghentikan penggunaan obat yang diduga menyebabkan SJS.

  • Pemberian cairan infus untuk mencegah terjadinya syok dan mengganti banyaknya cairan tubuh yang hilang akibat hilangnya integritas kulit
  • Perawatan luka yang baik sangat penting untuk mencegah terjadinya infeksi.
  • Obat anti nyeri
  • Obat anti inflamasi seperti corticosteroid baik injeksi maupun topikal
  • pasien juga biasanya membutuhkan perawatan mata oleh dokter spesialis mata
  • Antibiotik apabila diperlukan

Apabila Anda pernah mengalami SJS, maka selalu beritahu dokter, maupun perawat setiap kali akan berobat. Dianjurkan untuk kita orang Asia untuk berhati-hati dalam menggunakan obat obat anti kejang seperti Carbamazepine dan Tegretol.

Penyakit Creutzfeldt-Jakob, penyakit sapi gila pada manusia

Penyakit Creutzfeldt-Jackob atau disingkat CJD (Creutzfeldt-Jacob disease) adalah penyakit langka dan fatal yang menyebabkan kerusakan otak manusia secara cepat. penyakit ini termasuk pada kelompok penyakit yang dikenal dengan istilah transmissible spongioform encephalopaties yang juga menyerang hewan dan dikenal dengan penyakit sapi gila atau “mad cow” disease. Otak manusia yang terserang penyakit ini akan berbentuk seperti sponge (berlubang-lubang).

KeSimpulan Penyakit Jaringan Prion Degeneratif Otak Fatal Menular Melalui UdaraPenyakit ini sangat fatal dan tidak dapat disembuhkan. penderitanya akan meninggal dalam waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan. fakta yang menarik adalah 90% penyebab seseorang terkena CJD adalah tidak diketahui dan terjadi secara acak.  Hampir tidak berhubungan dengan mengkonsumsi daging sapi yang terkontaminasi. Ada faktor genetik, yang menyebabkan anak yang lahir dari orang tua yang mengidap CJD 50% beresiko menderita CJD pula.

Angka kejadian penyakit ini sangat langka, yaitu terjadi pada 1 per satu juta orang per tahun. di Amerika, sekitar 300 kasus terjadi setiap tahunnya. sedangkan di Indonesia angka kejadiannya masih belum ter data karena diagnosa pasti harus dilakukan melalui tindakan otopsi otak yang jarang dilakukan di Indonesia.

Penyebab

Penyakit “sapi gila” pada manusia bukan disebabkan oleh bakteri, virus, parasit atau jamur, melainkan sejenis protein yang disebut sebagai “prion”. Karena itu penyakit ini tidak dapat disembuhkan dengan antibiotik, antivirus, anti parasit ataupun anti jamur. Bahkan,  penelitian menunjukkan bahwa prion tersebut tidak memiliki rantai DNA yang berarti bukan termasuk mikroorganisme hidup.

Gejala

Orang yang terkena penyakit CJD atau “sapi gila” akan menunjukkan gejala penurunan fungsi otak secara cepat dan gangguan kejiwaan atau dementia diantaranya panik, bingung, cemas, aggresif, depresi, menarik diri dari lingkungan dan lupa ingatan. penderita juga mengalami gangguan fisik diantaranya kelemahan otot, kebutaan, gangguan keseimbangan tubuh dan koordinasi, konstipasi, tidak mampu mengontrol buang air kecil, kejang koma dan bahkan kematian. apabila kerusakan otak terjadi disekitar hipothalamus maka penderita akan mengalami insomnia fatal yang akan berujung pada kematian.

Pada akhirnya penderita akan kehilangan kemampuan bergerak dan berbicara. Pada keadaan ini,  infeksi seperti pneumonia dapat menyebabkan kematian.

Jenis-jenis penyakit “sapi gila ” pada manusia

Secara umum ada 3 jenis penyakit sapi gila atau CJD yang menyerang manusia yaitu:

a. Sporadic CJD atau penyakit sapi gila yang terjadi pada seseorang secara acak tanpa ada penyebab yang dapat diketahui. lebih dari 85% CJD pada manusia termasuk kedalam kategori ini.

b. Genetic CJD yaitu CJD yang didapatkan secara genetik dari silsilah keluarga. pada individu ini terjadi mutasi genetik yang berhubungan dengan penyakit “sapi gila” manusia.

c. CJD yang didapat karena terkontaminasi “prion” (protein penyebab CJD)  dari alat-alat operasi pada saat menjalani prosedur operasi,  terutama operasi yang berkaitan dengan jaringan-jaringan seperti otak dan saraf, tulang belakang, cornea atau mata dan jaringan pituitari atau yang berhubungan dengan hormon.

Walaupun penyakit “sapi gila” yang menyerang manusia termasuk kedalam golongan yang sama dengan penyakit sapi gila yang menyerang hewan (sapi), yaitu golongan transmissible spongioform encephalopaties,   ternyata kedua jenis penyakit ini tidak berkaitan satu dengan lainnya.

Cara penularan dan penyegahan

Sebagian besar kasus CJD pada manusia tidak diketahui penyebabnya. sebagian kecil diturunkan secara genetik dan sebagian kecil lainnya ditularkan melalui tindakan medis yang invasif. penelitian menunjukkan bahwa penyakit ini tidak menular melalui udara, kontak langsung dengan penderita, hubungan seksual atau melalui darah.

Penularan hanya akan terjadi apabila seseorang terkontaminasi langsung oleh jaringan otak atau jaringan tubuh lain yang terinfeksi, terutama pada saat operasi otak dan saraf, tulang belakang, operasi mata atau operasi jaringan pituitari.

Tidak ada bukti bahwa seseorang dapat terinfeksi penyakit sapi gila karena mengkonsumsi daging sapi yang terkena penyakit sapi gila. namun hal ini msh menjadi perdebatan. yang perlu kita ingat bahwa sekitar 90% kasus “sapi gila” pada manusia terjadi secara random tanpa dapat diketahui penyebabnya.

Pencegahan yang bisa dilakukan di rumah sakit adalah dengan mensterilkan alat-alat yang digunakan untuk operasi sesuai standard. pasien dengan CJD tidak perlu ditempatkan di ruangan khusus atau isolasi karena penyakit ini tidak menular melalui kontak langsung maupun udara.

Pengobatan dan Perawatan

Penyakit CJD tidak dapat disembuhkan, karena itu pengobatan terhadap penderitanya bersifat supportive dan palliative yang bertujuan untuk mengurangi penderitaan pasien. Pengobatan ditujukkan untuk menghentikan kejang dan kaku otot dengan pemberian obat clonazepam atau sodium valproat. pemasangan kateter urine dilakukan apabila penderita tidak dapat mengontrol BAK. pengobatan juga ditujukkan untuk mengurangi gejala fisik lainnya seperti konstipasi dan nyeri.

Penderita biasanya membutuhkan perawatan total di rumah sakit.

support dan dukungan mental terhadap keluarga juga penting untuk mempersiapkan keluarga menghadapi kehilangan.

 

 

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com