Penatalaksanaan Tekanan Tinggi Intrakranial

Tekanan Intrakranial adalah tekanan didalam rongga kranium yang ditentukan oleh 3 unsur yaitu jaringan otak, cairan cerebrospinalis (CSF) dan volume darah. Nilai normal tekanan intrakranial berkisar antara 5-15 mmHg. Tekanan intrakranial harus selalu berada dalam batas yang normal. Karena itu apabila terjadi peningkatan volume salah satu dari ke 3 unsur diatas,  maka akan terjadi mekanisme kompensasi untuk menurunkan volume unsur yang lain untuk meghindari tekanan tinggi intrakranial. Mekanisme kompensasi tubuh untuk mempertahankan tekanan intrakranial yang konstant adalah:

  1. Vasokontriksi pembuluh darah otak dalam rangka mengurangi volume darah yang masuk ke dalam rongga kranium
  2. Penurunan produksi CSF (CerebroSpinal Fluid)
  3. Pengaliran cairan cerebrospinalis  ke rongga subarachoid medula spinalis

Apabila mekanisne kompensasi diatas tidak dapat lagi mempertahankan tekanan intrakranial yang normal, maka akan terjadi kondisi yang kita sebut sebagai Tekanan Tinggi Intrakranial atau TTIK.

Hubungan antara perubahan volume intrakranial dengan tekanan didalam intrakranial dijelaskan dengan hukum “Monro-Kellie“. Doktrin Monro-Kellie menyatakan bahwa: “Jumlah total volume dari jarungan otak, CSF dan darah didalam otak adalah selalu tetap. Apabila terjadi peningkatan volume salah satu komponen diatas, maka harus diringi dengan pengurangan volume komponen yang lain”.

Sebelum kita membahas tentang penatalaksanaan tekanan tinggi intrakranial, terlebih dahulu kita akan mengingat kembali mengenai hemodinamik pembuluh darah otak.

1. Cerebral Blood Flow (CBF)

Cerebral blood flow atau jumlah aliran darah ke otak akan bergantung pada kebutuhan metabolisme otak dan aktivitas neuron. Secara umum otak akan menerima sekitar 15% dari total Cardiac Output. 2 faktor utama yang mempengaruhi aliran darah ke otak yaitu Cerebral perfusion Pressure (CPP) dan tahanan dalam pembuluh darah otak (Cerebral Vascular Resistant atau disingkat CVR)

  • CBF berbanding lurus dengan CPP,  yang artinya apabila CPP meningkat, maka aliran darah otak akan meningkat. Karena itu, diperlukan Cerebral perfusion Pressure yang adequat untuk dapat mempertahankan aliran darah otak yang adequat.
  • Aliran darah otak berbanding terbalik dengan tahanan pembuluh darah otak. Apabila Tahanan pembuluh darah otak meningkat, maka diperlukan CPP yang lebih tinggi untuk dapat mempertahankan aliran darah otak yang adequat. Aliran darah otak yang normal adalah berkisar antara 45-55 cc/ 100 gram otak dalam keadaan istirahat.

2. Cerebral Perfusion Pressure

Cerebal perfusion pressure  adalah tingginya tekanan darah yang diperlukan untuk dapat mengalirkan darah ke seluruh bagian otak. CPP yang tidak adequat akan menyebabkan iskemik sel-sel otak.

CPP dihitung dengan rumus : MAP – ICP

dimana MAP adalah Mean arterial pressure dan ICP adalah intrakranial Pressure

Jadi diperlukan tekanan darah yang adequat untuk mempertahankan perfusi otak yang adequat.

Pada pasien-pasien dengan trauma kepala, CPP harus dipertahankan minimal 70 – 80 mmHg dan hipotensi (sistolik blood pressure < 90 mmHg) harus dihindari karena akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas pasien.

Contoh cara menghitung CPP

 

Pasien, Tn A. mempunyai tekanan darah 140/80 mmHg dan pengukuran ICP menunjukkan 12 mmHG, berapakah CPP Tn. A?

Pertama kita harus menghitung MAP (Mean Arterial Pressure) dengan rumus

MAP = {(2 x tekanan darah diastolik) + sistolik} / 3

= {(2 X 80) + 140} / 3 = 100 mmHg

kemudian masukan ke rumus CPP

CPP = MAP – ICP

= 100 – 12 = 88 mmHg

Jadi, Cerebral perfusion pressure Tn. A adalah 88 mmHg, berada dalam batas normal.

 

Tekanan Tinggi Intrakranial

Tanda tanda peningkatan tekanan intrakranial yang harus dimonitor secara ketat adalah :

  • Penurunan kesadaran
  • Perubahan bentuk dan ukuran pupil dan perubahan  reaksi pupil terhadap cahaya
  • Sakit kepala
  • pandangan kabur
  • Mual dan muntah (terutama muntah proyektil)
  • Penurunan fungsi motorik
  • Perubahan kemampuan berbicara
  • Perubahan pada tanda-tanda vital

Apabila terjadi Cushing ‘s Triad, yaitu perubahan 3 tanda vital  yang terdiri dari :

  1. tekanan darah tinggi (terutama sistolik)
  2. bradikardia
  3. gangguan pernafasan (pernafasan tidak teratur)

Maka mengindikasikan terjadinya herniasi otak akibat peningkatan tekanan intrakranial yang tidak teratasi.

Manajemen pasien dengan tekanan tinggi intrakranial

Tekanan tinggi intrakranial dapat disebabkan oleh berbagai macam kondisi, diantaranya yaitu:

  • Perdarahan otak yang dapat disebabkan oleh stroke, cedera kepala atau pecahnya anerisma otak
  • Peningkatan produksi cairan serebrospinalis atau tersumbatnya aliran CSF di otak
  • tumor otak
  • infeksi seperti meningitis dan ensefalitis
  • hidrosefalus
  • hipertensi

Intervensi yang harus dilakukan kepada pasien dengan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial yaitu:

1. Posisikan kepala lebih tinggi 15 – 30 Derajat

Posisi kepala pasien lebih tinggi sampai dengan 30 derajat akan membantu mengurangi tekanan intrakranial dengan memperlancar aliran darah balik vena ke jantung. Posisi ini juga tidak terlalu tinggi, sehingga tetap memfasilitasi cerebral blood flow yang cukup.

posisi ini juga dapat memfasilitasi perpindahan cairan serebrospinalis dari rongga intrakranial ke rongga subarachnoid spinalis

2. Monitor tanda-tanda vital

Mean arterial pressure harus dipertahankan pada kondisi yang adequat (sekitar 100 mmHg) dan hipotensi harus dihindari untuk dapat mempertahankan perfusi otak yang adequat.

3. Terapi obat-obatan

Manitol

Terapi osmotik dengan menggunakan manitol merupakan terapi yang penting dalam penanganan pasien dengan TTIK. Manitol akan membantu mengurangi tekanan intrakranial dengan cara meningkatkan perpindahan cairan dari jaringan termasuk otak dan CSF ke dalam pembuluh darah sehingga mengurangi edema otak. Dosis yang diberikan untuk manitol 20% adalah 0.25 – 1 gram/kg BB bolus setiap 2 sampai 6 jam. Pemberian manitol harus dibatasi sampai 48 – 72 jam karena, efek samping pemberian manitol justru dapat menyebabkan meningkatnya tekanan intrakranial, hemolisis, hipotensi. hipokalemi dan gagal ginjal.

Dosis pemberian manitol harus diturunkan secara bertahap sebelum di stop sepenuhnya.

4. Terapi hiperventilasi

Terapi hiperventilasi bertujuan untuk menurunkan kadar PaCO2 ke nilai 30-35 mmHg. PaCO2 yang rendah akan menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah otak sehingga akan mengurangi aliran darah ke otak. Akan tetapi, efek vasokontriksi ini hanya berlangsung 11 sampai 20 jam. Karena itu terapi hiperventilasi dianjurkan pada kondisi dimana tekanan intrakranial meningkat secara cepat dan tinggi atau adanya tanda-tanda Cushing’s Triad yang merupakan tanda akan terjadinya herniasi otak.

5. Terapi Cairan

Tujuan terapi cairan pada pasien dengan TTIK adalah untuk mempertahankan kondisi euvolemia (volume cairan tubuh normal), mencegah hiponatremia dan mempertahankan kadar glukosa  darah normal. Cairan infus yang diberikan harus bersifat isotonik atau hipertonik. Cairan hipotonik harus dihindari karena akan meningkatkan edema otak.

Kadar glukosa darah harus dipertahankan normal yaitu sekitar 80-120 mg/dl. Hiperglikemia pada pasien dengan TTIK harus dihindari karena akan meningkatkan mortalitas dan morbiditas pasien. Begitu juga dengan kondisi hipoglikemia yang menyebabkan respon stres sistemik dan gangguan pada suplay darah ke otak.

6. Intevensi Bedah

Eksternal Ventricular Drainage (EVD)

Pada kondisi dimana TTIK disebabkan oleh hidrosefalus atau edema otak difus, intervensi bedah untuk mengalirkan cairan serebrospinalis harus dipertimbangkan.  CSF dialirkan keluar dari  rongga kranium dengan Eksternal Ventrikular Drainage atau Ventrikuloperitoneal Shunt.

– Kraniektomi dekompresife

Operasi ini dilakukan dengan mengangkat sebagian tulang tengkorak untuk menurunkan tekanan intrakranial. Kraniektomi dekompresif akan memberikan ruang untuk edema otak, sehingga tidak terjadi herniasi. Operasi ini harus dipertimbangkan apabila terapi lain untuk menurunkan tekanan intrakranial tidak berhasil.

Penatalaksanaan Stroke Hemoragik

Stroke hemoragik atau stroke perdarahan adalah stroke yang terjadi akibat pecahnya pembuluh darah didalam otak atau pecahnya aneurisma otak yang menyebabkan terganggunya pasokan darah ke otak. Selain itu, perdarahan didalam otak juga akan menyebabkan edema otak dan meningkatnya tekanan intra kranial yang dapat berujung pada herniasi otak dan kematian. Angka kejadian Stroke hemoragik adalah sekitar 15% dari semua kasus stroke.

Penyebab Stroke Hemoragik

Penyebab utama terjadinya stroke haemorrhage adalah hipertensi yang tidak terkontrol. tekanan darah yang tidak terkontrol dengan baik akan menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah termasuk pembuluh darah otak. Pembuluh darah otak menjadi lemah, menipis dan pecah.

Cara membedakan stroke hemoragik dan stroke infark akut

Haemorrhage stroke adalah kegawat-daruratan medis yang harus ditangani dengan segera. Terdapat perbedaan yang mendasar mengenai penatalaksanaan stroke perdarahan dengan stroke infark akut  karena itu pemeriksaan fisik maupun diagnostik harus dilakukan secara cepat dan tepat untuk mendeteksi jenis stroke yang dialami oleh pasien.

CT scan kepala tanpa kontras adalah pemeriksaan yang paling direkomendasikan untuk membedakan stroke infark akut dan stroke perdarahan. The American Stroke Association menyatakan bahwa CT scan kepala tanpa kontras harus dilakukan dalam waktu 25 menit dan diinterpretasikan dalam waktu maksimal 45 menit sejak pasien tiba di IGD.

CT scan normal                 stroke perdarahan

Gejala klinis yang dapat membedakan stroke perdarahan dan stroke infark adalah: pada stroke perdarahan biasanya timbul gejala-gejala yang berkaitan dengan peningkatan tekanan intra kranial seperti:

  • penurunan tingkat kesadaran yang cepat
  • muntah proyektil (muntah menyembur)
  • sakit kepala hebat
  • kaku kuduk
  • Tekanan darah diastolik lebih dari 120 mmHg

Selain itu, untuk membedakan gejala stroke dengan gejala yang hanya menyerupai stroke, kita dapat menggunakan alat screening yang sudah digunakan dan terstandarisasi secara international seperti the ROSIER Scale dan FAST

Penanganan Stroke hemoragik

Managemen pasien dengan stroke perdarahan meliputi surgical management dan medical management.

Medical Management

Penanganan pasoen dengan stroke perdarahan dimulai dengan stabilisasi tanda-tanda vital. Pemasangan endotracheal tube harus dilakukan pada pasien dengan GCS < 9 dan tidak dapat mempertahankan jalan nafas yang paten. Terapai obat-obatan pada pasien dengan stroke perdarahan meliputi:

a. Penanganan tekanan tinggi intra kranial (TTIK)

Pada pasien yang menunjukkan TTIK yang nyata maka intubasi dan pemberian hiperventilasi harus dilakukan,  dilanjutkan dengan pemberian manitol 20% dengan dosis 0, 50 sampai 1 g/KgBB diberikan secara IV bolus selama 20 menit dan dapat diulang setiap 4 sampai 6 jam. Posisikan kepala pasien setengah duduk 15-30 derajat dengan leher yang lurus, tidak fleksi dan tidak extensi.

b. Penanganan Hipertensi

Tekanan darah yang sangat tinggi akan menyebabkan terjadinya perdarahan ulang dan memperluas hematoma di otak. Karena itu, pemberian anti hipertensive agent pada pasien dengan stroke hemoragik sangat penting dan merupakan terapi inti, Penurunan tekanan darah sistolik sampai 140 mmHg aman dan direkomendasikan oleh ASA 2010 (The American Stroke Association). obat-obat yang dapat diberikan untuk menurunkan tekanan darah yaitu nicardipine infusion atau hydralazine. 

c. monitoring gula darah

Gula darah harus dipertahankan pada level 80-110 mg/dl. Jika perlu, insulin infusian dapat diberikan untuk mempertahankan kadar gula darah yang normal. Pada pasien dengan stroke perdarahan kadar gula darah yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah dapat menyebabkan perburukan kondisi pasien dan meningkatkan resiko kematian.

d. Pemberian terapi anti kejang

Kejang biasanya dialami oleh pasien dengan stroke perdarahan. Angka kejadian kejang adalah sekitar 16% dan terjadi pada minggu pertama sejak terjadinya stroke. Apabila pasien mengalami kejang, maka anti kejang golongan benzodiazepine seperti diazepam atau lorazepam harus diberikan. Namun Pemberian anti kejang profilaksis tidak direkomendasikan, Artinya selama pasien tidak mengalami kejang, maka pemberian antikejang untuk tujuan pencegahan tidak direkomendasikan.

Surgical Management

Operasi craniotomy dapat dilakukan untuk mengevakuasi hematoma.

Rekomendari ASA 2010 mengenai surgical terapi untuk pasien dengan stroke perdarahan adalah sebagai berikut:

1. Apabila perdarahan terjadi di cerebelum dan pasien menunjukkan gejala penurunan kesadaran atau tanda-tanda penekanan batang otak, maka craniotmy harus dilakukan sesegera mungkin

2. Untuk perdarahan di bagian supratentorial maka:

  • evakuasi hematoma secara dini tidak dianjurkan. evakuasai hematoma dianjurkan jika pasien mengalami penurunan kesadaran
  • Pengangkatan bekuan darah tanpa kraniotomi, yaitu dengan stereotactic atau endoscopic aspiration dapat dilakukan, namun tingkat keberhasilanya belum dapat dibuktikan.

Penatalaksanaan Stroke Infark Akut

Stroke atau dikenal juga dengan istilah Cerebrovascular Accident (CVA) adalah suatu kondisi dimana terjadi gangguan fungsional otak yang akut, yang terjadi secara focal maupun gobal dan menetap selama  lebih dari 24 jam. Stroke terjadi ketikan aliran darah ke bagian otak tertentu terhenti  atau berkurang secara signifikan. Terhentinya aliran darah ke bagian otak ini dapat disebabkan oleh 2 hal, yaitu tersumbatnya pembuluh darah otak yang akan menyebabkan stroke infark dan pecahnya pembuluh darah otak yang akan menyebabkan stroke hemoragik.

Pasien dengan stroke biasanya datang ke IGD dengan keluhan:

1. Tiba  – tiba merasa lemah pada salah satu sisi anggota gerak (hemidefisit motorik)

2. kesemutan atau  hilang sensasi di salah satu sisi tangan maupun kaki (hemidefisit sensorik)

3. Bingung

4. Mengalami penurunan kesadaran

5. Bicara terdengar cadel (pelo)

6. Penglihatan kabur yang terjadi tiba-tiba

Pemeriksaan fisik yang tepat, akurat dan terstruktur akan membantu membedakan gejala stroke dari gejala gejala lain yang menyerupai stroke seperti hipoglikemia atau tumor otak. Penggunaan metode yang berlaku secara international untuk mendeteksi stroke juga akan sangat membantu mempercepat deteksi stroke, yaitu dengan menggunakan skala ROSIER (Recognition of Stroke in the Emergency Room). Untuk lebih jelasnya mengenai metode ini dan metode lain untuk mendeteksi stroke secara cepat silahkan membaca postingan saya sebelumya di http://www.pojok-science.com/metode-untuk-mendeteksi-gejala-stroke/

Penatalaksanaan stroke di IGD rumah sakit akan sangat  bergantung pada jenis Stroke nya, karena itu CT scan kepala tanpa kontras harus dilakukan sesegera mungkin untuk mengetahui apakah yang terjadi adalah stroke infark atau hemoragik (perdarahan). Selanjutnya, pada kesempatan ini akan dibahas mengenai tata laksana stroke infark atau stroke iskemik akut yang harus segera dimulai di IGD.

stroke infark
stroke infark

 

 

Penatalaksanaan Stroke iskemik akut di Instalasi gawat darurat

Tata laksana pasien dengan stroke iskemik di IGD harus berfokus pada pemberian terapi thrombolitik atau fibrinolitik sesegera  mungkin pada pasien yang memenuhi kriteria. Selain itu, terapi obat-obatan yang diberikan di IGD bertujuan untuk memulihkan perfusi otak dan mencegah kematian sel-sel saraf yang lebih lanjut.

Langkah penanganan pasien dengan stroke di IGD adalah:

A > Airway : pastikan jalan nafas pasien patent. Pasien dengan GCS < 9 , pertimbangakan untuk pemasangan endotracheal tube.

B > Breathing : berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen > 95%

C > Circulation : – pasang IV canula sesegera mungkin

– Apabila pasien tidak memenuhi kriteria untuk pemberian thrombolitik, maka penanganan hipertensi harus ditunda                                  kecuali apabila  pasien mengalami malignan hipertensi atau mampunyai riwayat aortic dissection

Setelah stabilisasi Airway, breathing dan circulation dilakukan, langkah penting selanjutnya adalah pemeriksaan defisit fungsi neurologis dan anamnesa riwayat penyakit.

informasi penting yang harus ditanyakan pada saat anamnesa pasien dengan stroke infark akut adalah:

  1. Waktu onset gejala stroke
  2. Faktor resiko untuk penyakit coroner dan pembuluh darah seperti merokok, tekanan darah darah tingi, hiperkolesterol darah, dsb.
  3. Riwayat penyalahgunaan obat-obatan, riwayat migrain dan kehamilan.
  4. Riwayat penyakit dan operasi yang berkaitan dengan layak tidaknya pasien mendapatkan terap trombolitik seperti riwayat operasi otak dan tulang belakang, riwayat trauma kepala, dsb

Pemeriksaan fisik untuk menentukan defisit neurologis harus dilakukan dengan cepat dan sistematik menggunakan skala stroke yang telah tervalidasi secara internasional seperti ROSIER Scale, dan menyingkirkan gejala-gejala yang menyerupai stroke seperti hipoglikemia.

Terapi Trombolitik

Pemberian trombolitik merupakan terapi pilihan pada pasien dengan stroke iskemik akut. Terapi ini hanya boleh diberikan dalam waktu 3 jam dari awal munculnya gejala stroke. Karena itu, pemeriksaan fisik, anamnesa dan CT scan harus dilakukan dengan cepat di IGD. Beberapa rumah sakit akan mengaktivasi “code stroke” untuk mempercepat penanganan pasien yang diduga mengalami stroke.

Obat trombolitik yang digunakan adalah rtPA (recombinant tissue plasminogen activator) seperti alteplase.

alteplase diberikan dengan dosis 0. 9 mg/kg BB (dosis maksimal 90 mg). 10% pertama diberikan secara bolus IV, sisanya diberikan selama melalui infus selama 1 jam.

Indikasi penggunaan terapi trombolitik

  1. tanda dan gejala klinis konsisten dengan stroke iskemik akut
  2. onset gejala stroke tidak lebih dari 3 jam
  3. defisit fungsi neurologis yang jelas
  4. usia > 18 tahun

Kontra Indikasi pemberian terapi trombolitik

  1. Trauma kepala berat 3 bulan terakhir
  2. Adanya gejala yang menunjukkan kemungkinan perdarahan subarachnoid
  3. CT scan menunjukkan adanya perdarahan di Otak
  4. Riwayat perdarahan intracranial
  5. Tumor otak, aneurisma otak dan malformasi arteriovenosa
  6. Riwayat operasi kepala dan tulang belakang yang baru
  7. Tekanan darah sistolik > 185 mmHg dan diastolik > 110 mmHg
  8. Perdarahan internal yang aktif
  9. Trombosit < 100.000 /mm3
  10. Perdarahan gastrointestinal dan hematuria dalam 21 hari terakhir
  11. Pasien menggunakan obat-obat anti coagulan (INR > 1.7 dan PT > 15 detik)
  12. Mayor surgery dalam 14 hari terakhir

Kontra indikasi pemberian trombolitik tersebut diatas harus dikaji secara teliti sebelum terapi trombolitik dimulai.

 

Contoh Kasus Pasien Dengan Abses Otak

Abses otak merupakan salah satu infeksi pada sistem saraf pusat yang mengancam jiwa yang ditandai dengan penimbunan nanah atau pus yang terlokalisasi di bagian otak tertentu.  Angka kematian karena abses otak diperkirakan sekitar 20%. Dibawah ini adalah sebuah contoh kasus pasien dengan abses otak yang datang ke IGD tempat saya bekerja dan penanganan yang diberikan.

abses otak
Abses otak

Pasien atas nama Bambang (bukan nama sebenarnya), 45 tahun laki-laki, datang ke instalasi gawat darurat dengan keluhan demam yang tidak terlalu tinggi, disertai mual,  muntah dan sakit kepala yang hebat. Pasien Bambang tidak mempunyai riwayat penyakit terdahulu dan bekerja sebagai tukang bangunan. Setelah beberapa menit di IGD, pasien Bambang tampak bingung dan mengalami penurunan kesadaran.

Tanda dan Gejala Abses Otak

Pasien Bambang mengalami tanda dan gejala yang sesuai dengan brain abscess yaitu:

  • sakit kepala yang hebat
  • demam
  • mual dan muntah
  • penurunan tingkat kesadaran

Tanda dan gejala lain yang timbul akan bergantung pada lokasi dan ukuran abses nya. Misalnya, apabila brain abscess nya berada di frontal atau parietal lobe, maka pasien dapat menunjukkan  gejala perubahan perilaku atau gangguan mood. Sedangkan pasien yang mengalami abses di Cerebelum dan batang otak akan menunjukkan gejala gangguan dalam bergerak atau berjalan dan gangguan pada saraf-saraf cranial.

Abses atau nanah itu juga akan menyebabkan edema di sekitar jaringan otak yang dapat berujung pada peningkatan tekanan intra cranial dan herniasi otak.

Proses terjadi nya Abses otak

Ada 3 penyebab utama terjadinya abses otak, yaitu:

  1. infeksi yang menyebar langsung ke jaringan otak yang berasal dari infeksi telinga atau otitis media, infeksi pada gigi dan juga sinusitis.
  2. kondisi kondisi seperti infeksi paru yang kronis, endocarditis, infeksi rongga perut dan infeksi rongga plevis dapat menyebabkan abses otak yang menyebar ke otak melalui aliran darah
  3. trauma kepala tajam dan operasi otak atau tulang belakang.

Cara penegakan diagnosis brain abscess

Pasien yang datang ke IGD dengan gejala yang menunjukkan kemungkinan brain abscess harus dilakukan CT scan kepala dengan kontras sesegera mungkin. CT scan dengan kontras dapat mendeteksi lokasi, ukuran, jumlah dan tahap perkembangan abses. CT scan ini juga dapat mendeteksi kondisi-kondisi lain seperti edema otak, hidrosefalus dan peningkatan tekanan intra cranial.

MRI dengan kontrast Gadolinium dapat dilakukan apabila kondisi pasien stabil. MRI dengan kontrast dapat membrikan gambaran batang otak yang lebih jelas dan lebih sensitif dalam membedakan abses otak dengan lesi neoplasma.

kultur darah dan cairan cerebrospinal harus dilakukan untuk memastikan bakteri penyebab abses dan memnentukan terapy antibiotik yang sesuai.

Manajemen pasien dengan Abses Otak

1. Terapy antibiotik

Keterlambatan dalam pemberian antibiotik dapat menyebabkan prognosis yang buruk, karena itu Antibiotik harus diberikan sesegera mungkin dan dimulai dengan pemberian antibiotk spectrum luas yang dapat menembus barrier darah-otak. Setelah hasil kultur darah dan antibiotik sensitivity ada, maka spesifik antibiotik dapat  berikan. Terapy  Antibiotik yang diberikan mengikuti prinsip “triple high Dose”, contohnya sebagai berikut:

  • Ceftriaxone 2 g IV setiap 12 jam ditambah Metronidazole 500 mg setiap 6 sampai 8 jam. atau
  • Cefotaxime 2 g IV setiap 4 sampai 6 jam ditambah Metronidazole 500 mg setiap 6 sampai 8 jam, atau
  • Meropenem 2 g IV,  setiap 8 jam dan vancomycin 15 mg/ kg BB setiap 8 sampai 12 jam.

2. Intervensi neurosurgical

Apabila diameter abses otak lebih dari 2, 5 cm, maka operasi pengangkatan abses harus dipertimbangan. Pengangkatan abses dapat dilakukan dengan CT-guided stereotactic aspiration atau dengan craniotomy yang dilanjutkan dengan eksisi abses.

Intervensi neurosurgical dilakukan untuk:

  • Menurunkan tekanan intracranial
  • Mengambil sampel pus untuk pemeriksaan patologi
  • Menegakkan diagnosis
  • Meningkatkan keefektifan terapy antibiotik
  • Mencegah penyebaran infeksi ke ventrikel otak

3. Terapy anti kejang

25 – 30% pasien dengan abses otak akan mengalami kejang yang disebabkan gangguan keseimbangan kadar glukosa darah dan hiperpireksia. Anti – epileptic drugs (AED) atau obat anti kejang harus diberikan sebagai profilaksis sedini mungkin dan dilanjutkan selama minimal  3 bulan.

Contoh obat anti kejang yang diberikan kepada pasien dewasa dengan brain abscess adalah

  • Phenobarbital (Luminal) 90-120 milligram (mg) per hari, Per oral (PO)
  • Valproate 1,000-3,000 mg per hari , per oral (PO)

 

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com