LGBT bukan penyakit jiwa?

Baru-baru ini kita mendengar bahwa perhimpunan dokter jiwa Indonesia kembali menegaskan bahwa homoseksual dan LGBT adalah gangguan kejiwaan yang dapat disembuhkan. Tentu saja hal ini menimbulkan perdebatan terutama dari kalangan LGBT dan para aktivist hak asasi manusia. Memang Sejak tahun 1974, the American Psychiatric Association atau perkumpulan dokter specialis kejiwaan Amerika menegaskan bahwa homosexual atau LGBT bukan penyakit jiwa. Hal ini senada dengan pernyataan dari organisasi kesehatan dunia: WHO yang juga menegaskan bahwa homosexual bukanlah gangguan mental, melainkan variasi orientasi sex.

Lalu, apakah benar bahwa homoseksual itu adalah gangguan jiwa yang bisa menular seperti yang dikatakan oleh beberapa psikiater Indonesia?

Penyebab seseorang menjadi homosexual atau heterosexual tidak diketahui secara pasti. Beberapa teori mengatakan bahwa penyebab homosexual adalah faktor genetik, lingkungan, pola asuh orang tua sewaktu kecil atau faktor hormonal. Namun sampai saat ini tidak ada teori yang terbukti benar, sehingga banyak orang berpendapat bahwa homosexual hanyalah variasi alamiah dari orientasi sex yang sama halnya dengan minat dan bakat seseorang.

Lalu mengapa homoseksualitas pernah dikategorikan kedalam gangguan mental?

Sampai dengan abad ke 19 Masehi, aktivitas homosexual dianggap sebagai perilaku kriminal karena bertantangan dengan kewajaran saat itu. Pada saat itu homosexual dikenal dengan istilah sodomi yang berasal dari bible yang artinya perilaku yang dikutuk. Istilah sodomi pada waktu itu juga berlaku untuk masturbasi, oral dan anal sex. Bahkan sekitar tahun 1533 di Inggris, orang-orang yang terbukti homosexual dihukum dengan hukuman gantung.

Miris dengan hukuman gantung bagi homoseksual yang berlaku di Eropa mendorong para aktivis hak-hak asasi manusia di Jerman untuk mengajukan protes terhadap pengadilan dan undang-undang yang berlaku  saat itu. Mereka menuntut hukuman gantung untuk  homoseksual dicabut dan diganti dengan rehabilitasi di rumah sakit. Saat itu mereka menyatakan bahwa cinta sesama jenis adalah bawaan dari lahir dan tidak seharusnya dihukum. Dan untuk pertama kalinya pada tahun 1949 WHO mengkategorikan homosexual sebagai gangguan jiwa.

Pada tahun 1988 para ahli dibidang psychoanalisis dan orientasi sexual diantaranya Sigmund Freud menyatakan bahwa homosexualitas tidak dapat dikategorikan sebagai gangguan jiwa karena tidak ada kerusakan apapun dalam diri seorang homosexual. Dan akhirnya mulai tahun 1974 homosexialitas tidak lagi dianggap sebagai gangguan jiwa dan dibedakan dari perilaku sodomi yang notabene adalah pemerkosaan.

Jika dilihat dari sejarahnya, pengkategorian homoseksual kedalam gangguan jiwa dilakukan untuk mengindari hukuman penjara, denda atau hukuman gantung. Seseorang dikatakan mengidap penyakit jiwa jika keadaan mentalnya tidak stabil dan terganggu sehingga orang tersebut tidak dapat berfungsi secara normal dalam aktivitas sehari-hari, seperti bekerja dan bergaul. Nyatanya, orang dengan orientasi sex terhadap sesama jenis tidak mengalami gangguan apapun dalam berfikir dan beraktivitas bahkan sukses dalam pekerjaanya. yang menyebabkan banyak homoseksual mengalami depresi bahkan bunuh diri adalah tekanan dan stigma dari masyarakat terhadap mereka.

Ada beberapa terapi yang dikatakan bisa mengembalikan seseorang menjadi heteroseksual diantaranya terapi kejut listrik dan terapi kimia dengan zat yang menstimulasi muntah. Sebuah penelitian di Inggris mengungkapkan bahwa terapi-terapi tersebut diatas tidak ada yang terbukti berhasil mengubah orientasi seksual seseorang. Terapi-terapi tersebut hanya menambah penderitaan dan menyebabkan depresi bagi yang menjalaninya karena pada akhirnya yang homoseksual tetap dengan orientasi sexsualnya. Ditambahkan pula bahwa yang menyebabkan mereka mau mencoba terapi tersebut adalah tekanan dan stigma yang disebarkan oleh media dan masyarakat.

 

 

 

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com