Penyakit Creutzfeldt-Jakob, penyakit sapi gila pada manusia

Penyakit Creutzfeldt-Jackob atau disingkat CJD (Creutzfeldt-Jacob disease) adalah penyakit langka dan fatal yang menyebabkan kerusakan otak manusia secara cepat. penyakit ini termasuk pada kelompok penyakit yang dikenal dengan istilah transmissible spongioform encephalopaties yang juga menyerang hewan dan dikenal dengan penyakit sapi gila atau “mad cow” disease. Otak manusia yang terserang penyakit ini akan berbentuk seperti sponge (berlubang-lubang).

KeSimpulan Penyakit Jaringan Prion Degeneratif Otak Fatal Menular Melalui UdaraPenyakit ini sangat fatal dan tidak dapat disembuhkan. penderitanya akan meninggal dalam waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan. fakta yang menarik adalah 90% penyebab seseorang terkena CJD adalah tidak diketahui dan terjadi secara acak.  Hampir tidak berhubungan dengan mengkonsumsi daging sapi yang terkontaminasi. Ada faktor genetik, yang menyebabkan anak yang lahir dari orang tua yang mengidap CJD 50% beresiko menderita CJD pula.

Angka kejadian penyakit ini sangat langka, yaitu terjadi pada 1 per satu juta orang per tahun. di Amerika, sekitar 300 kasus terjadi setiap tahunnya. sedangkan di Indonesia angka kejadiannya masih belum ter data karena diagnosa pasti harus dilakukan melalui tindakan otopsi otak yang jarang dilakukan di Indonesia.

Penyebab

Penyakit “sapi gila” pada manusia bukan disebabkan oleh bakteri, virus, parasit atau jamur, melainkan sejenis protein yang disebut sebagai “prion”. Karena itu penyakit ini tidak dapat disembuhkan dengan antibiotik, antivirus, anti parasit ataupun anti jamur. Bahkan,  penelitian menunjukkan bahwa prion tersebut tidak memiliki rantai DNA yang berarti bukan termasuk mikroorganisme hidup.

Gejala

Orang yang terkena penyakit CJD atau “sapi gila” akan menunjukkan gejala penurunan fungsi otak secara cepat dan gangguan kejiwaan atau dementia diantaranya panik, bingung, cemas, aggresif, depresi, menarik diri dari lingkungan dan lupa ingatan. penderita juga mengalami gangguan fisik diantaranya kelemahan otot, kebutaan, gangguan keseimbangan tubuh dan koordinasi, konstipasi, tidak mampu mengontrol buang air kecil, kejang koma dan bahkan kematian. apabila kerusakan otak terjadi disekitar hipothalamus maka penderita akan mengalami insomnia fatal yang akan berujung pada kematian.

Pada akhirnya penderita akan kehilangan kemampuan bergerak dan berbicara. Pada keadaan ini,  infeksi seperti pneumonia dapat menyebabkan kematian.

Jenis-jenis penyakit “sapi gila ” pada manusia

Secara umum ada 3 jenis penyakit sapi gila atau CJD yang menyerang manusia yaitu:

a. Sporadic CJD atau penyakit sapi gila yang terjadi pada seseorang secara acak tanpa ada penyebab yang dapat diketahui. lebih dari 85% CJD pada manusia termasuk kedalam kategori ini.

b. Genetic CJD yaitu CJD yang didapatkan secara genetik dari silsilah keluarga. pada individu ini terjadi mutasi genetik yang berhubungan dengan penyakit “sapi gila” manusia.

c. CJD yang didapat karena terkontaminasi “prion” (protein penyebab CJD)  dari alat-alat operasi pada saat menjalani prosedur operasi,  terutama operasi yang berkaitan dengan jaringan-jaringan seperti otak dan saraf, tulang belakang, cornea atau mata dan jaringan pituitari atau yang berhubungan dengan hormon.

Walaupun penyakit “sapi gila” yang menyerang manusia termasuk kedalam golongan yang sama dengan penyakit sapi gila yang menyerang hewan (sapi), yaitu golongan transmissible spongioform encephalopaties,   ternyata kedua jenis penyakit ini tidak berkaitan satu dengan lainnya.

Cara penularan dan penyegahan

Sebagian besar kasus CJD pada manusia tidak diketahui penyebabnya. sebagian kecil diturunkan secara genetik dan sebagian kecil lainnya ditularkan melalui tindakan medis yang invasif. penelitian menunjukkan bahwa penyakit ini tidak menular melalui udara, kontak langsung dengan penderita, hubungan seksual atau melalui darah.

Penularan hanya akan terjadi apabila seseorang terkontaminasi langsung oleh jaringan otak atau jaringan tubuh lain yang terinfeksi, terutama pada saat operasi otak dan saraf, tulang belakang, operasi mata atau operasi jaringan pituitari.

Tidak ada bukti bahwa seseorang dapat terinfeksi penyakit sapi gila karena mengkonsumsi daging sapi yang terkena penyakit sapi gila. namun hal ini msh menjadi perdebatan. yang perlu kita ingat bahwa sekitar 90% kasus “sapi gila” pada manusia terjadi secara random tanpa dapat diketahui penyebabnya.

Pencegahan yang bisa dilakukan di rumah sakit adalah dengan mensterilkan alat-alat yang digunakan untuk operasi sesuai standard. pasien dengan CJD tidak perlu ditempatkan di ruangan khusus atau isolasi karena penyakit ini tidak menular melalui kontak langsung maupun udara.

Pengobatan dan Perawatan

Penyakit CJD tidak dapat disembuhkan, karena itu pengobatan terhadap penderitanya bersifat supportive dan palliative yang bertujuan untuk mengurangi penderitaan pasien. Pengobatan ditujukkan untuk menghentikan kejang dan kaku otot dengan pemberian obat clonazepam atau sodium valproat. pemasangan kateter urine dilakukan apabila penderita tidak dapat mengontrol BAK. pengobatan juga ditujukkan untuk mengurangi gejala fisik lainnya seperti konstipasi dan nyeri.

Penderita biasanya membutuhkan perawatan total di rumah sakit.

support dan dukungan mental terhadap keluarga juga penting untuk mempersiapkan keluarga menghadapi kehilangan.

 

 

3 cara yang salah dalam menangani mimisan

Mimisan atau dalam bahasa medis dikenal dengan istilah epistaksis sering terjadi secara spontan terutama pada saat suhu lingkungan terlalu panas, dingin atau kering. hidung kita kaya akan pembuluh darah yang dapat mengalami perdarahan karena berbagai hal diantaranya trauma, alergi, infeksi, tekanan darah tinggi atau karena menkonsumsi obat-obatan seperti dexamethasone, aspirin, warfarin dan obat-obat yang mengganggu pembekuan darah lainnya.

Ada dua macam mimisan, yaitu yang berasal dari pembuluh darah bagian depan hidung atau epistaksis anterior dan yang berasal dari bagian belakang hidung atau epistaksis posterior. perdarahan yang berasal dari bagian belakang hidung biasanya lebih sulit untuk dihentikan dan sering berujung pada tindakan operasi. tetapi untungnya sebagian besar mimisan berasal dari pembuluh darah yang berada dibagian depan hidung dan bisa dihentikan dengan cara-cara yang terbilang mudah.

Ciri-ciri mimisan yang berasal dari bagian belakang hidung diantaranya adalah perdarahan terlihat dari kedua lubang hidung dan terasa ada darah yang mengalir ke tenggorokkan atau pangkal lidah. Sementara itu apabila darah hanya terlihat dari satu lubang hidung saja , maka kemungkinannya adalah epistaksis anterior atau mimisan yang berasal dari pembuluh darah dibagian depan hidung dekat dengan septum. 3 kesalahan dibawah ini sering dilakukan orang atau dilakukan orang tua ketika anaknya mimisan:

1. Mendongakkan kepala dengan maksud supaya perdarahan tidak keluar.

Cara ini tidak akan menghentikan perdarahan, bahkan berbahaya karena bagian belakang hidung kita  tersambung ke tenggorokan. apabila kita mendongakkan kepala ketika mimisan, maka darah akan mengalir ke tenggorokan yang akan menyebabkan muntah, atau yang lebih parah darah akan masuk ke kerongkongan dan menyebabkan aspirasi atau tersedak.

Cara yang benar adalah menundukkan kepala dan menjepit atau menekan cuping hidung selama setidaknya 20-30 menit. kebanyakan mimisan akan berhenti dengan cara ini. untuk membantu menghentikan perdarahan beri kompres es di tengkuk leher dan di pangkal hidung.

2. panik

Biasanya ini terjadi ketika seseorang atau anak mengalami mimisan untuk pertama kalinya. panik akan membuat perdarahan semakin parah karena menstimulasi saraf simpatis yang  akan meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah yang pada akhirnya akan menambah perdarahan.

Yang benar adalah tenang dan duduk tegak, tidak berbaring serta melakukan tindakan nomor satu diatas.

3. Kesalahan yang ke tiga ini paling sering dilakukan orang yaitu menekan hidung pada bagian pangkal hidung. bagian pangkal hidung adalah bagian hidung yang bertulang dan menekan atau menjepit daerah ini ketika mimisan sama tidak bergunanya dengan menekan sikut atau lutut kita. no kidding!. yang harus kita tekan adalah cuping hidung atau bagian paling bawah hidung yang dekat dengan lubang hidung.

Mimisan bisa terjadi pada setiap orang dan kapan saja. sebagian mimisan bisa dihentikan dengan cara-cara yang dijelaskan diatas. namun alangkah lebih baik jika kita mencari tahu penyebab mimisan terutama apabila terjadi secara berulang dan kronis.

 

LGBT bukan penyakit jiwa?

Baru-baru ini kita mendengar bahwa perhimpunan dokter jiwa Indonesia kembali menegaskan bahwa homoseksual dan LGBT adalah gangguan kejiwaan yang dapat disembuhkan. Tentu saja hal ini menimbulkan perdebatan terutama dari kalangan LGBT dan para aktivist hak asasi manusia. Memang Sejak tahun 1974, the American Psychiatric Association atau perkumpulan dokter specialis kejiwaan Amerika menegaskan bahwa homosexual atau LGBT bukan penyakit jiwa. Hal ini senada dengan pernyataan dari organisasi kesehatan dunia: WHO yang juga menegaskan bahwa homosexual bukanlah gangguan mental, melainkan variasi orientasi sex.

Lalu, apakah benar bahwa homoseksual itu adalah gangguan jiwa yang bisa menular seperti yang dikatakan oleh beberapa psikiater Indonesia?

Penyebab seseorang menjadi homosexual atau heterosexual tidak diketahui secara pasti. Beberapa teori mengatakan bahwa penyebab homosexual adalah faktor genetik, lingkungan, pola asuh orang tua sewaktu kecil atau faktor hormonal. Namun sampai saat ini tidak ada teori yang terbukti benar, sehingga banyak orang berpendapat bahwa homosexual hanyalah variasi alamiah dari orientasi sex yang sama halnya dengan minat dan bakat seseorang.

Lalu mengapa homoseksualitas pernah dikategorikan kedalam gangguan mental?

Sampai dengan abad ke 19 Masehi, aktivitas homosexual dianggap sebagai perilaku kriminal karena bertantangan dengan kewajaran saat itu. Pada saat itu homosexual dikenal dengan istilah sodomi yang berasal dari bible yang artinya perilaku yang dikutuk. Istilah sodomi pada waktu itu juga berlaku untuk masturbasi, oral dan anal sex. Bahkan sekitar tahun 1533 di Inggris, orang-orang yang terbukti homosexual dihukum dengan hukuman gantung.

Miris dengan hukuman gantung bagi homoseksual yang berlaku di Eropa mendorong para aktivis hak-hak asasi manusia di Jerman untuk mengajukan protes terhadap pengadilan dan undang-undang yang berlaku  saat itu. Mereka menuntut hukuman gantung untuk  homoseksual dicabut dan diganti dengan rehabilitasi di rumah sakit. Saat itu mereka menyatakan bahwa cinta sesama jenis adalah bawaan dari lahir dan tidak seharusnya dihukum. Dan untuk pertama kalinya pada tahun 1949 WHO mengkategorikan homosexual sebagai gangguan jiwa.

Pada tahun 1988 para ahli dibidang psychoanalisis dan orientasi sexual diantaranya Sigmund Freud menyatakan bahwa homosexualitas tidak dapat dikategorikan sebagai gangguan jiwa karena tidak ada kerusakan apapun dalam diri seorang homosexual. Dan akhirnya mulai tahun 1974 homosexialitas tidak lagi dianggap sebagai gangguan jiwa dan dibedakan dari perilaku sodomi yang notabene adalah pemerkosaan.

Jika dilihat dari sejarahnya, pengkategorian homoseksual kedalam gangguan jiwa dilakukan untuk mengindari hukuman penjara, denda atau hukuman gantung. Seseorang dikatakan mengidap penyakit jiwa jika keadaan mentalnya tidak stabil dan terganggu sehingga orang tersebut tidak dapat berfungsi secara normal dalam aktivitas sehari-hari, seperti bekerja dan bergaul. Nyatanya, orang dengan orientasi sex terhadap sesama jenis tidak mengalami gangguan apapun dalam berfikir dan beraktivitas bahkan sukses dalam pekerjaanya. yang menyebabkan banyak homoseksual mengalami depresi bahkan bunuh diri adalah tekanan dan stigma dari masyarakat terhadap mereka.

Ada beberapa terapi yang dikatakan bisa mengembalikan seseorang menjadi heteroseksual diantaranya terapi kejut listrik dan terapi kimia dengan zat yang menstimulasi muntah. Sebuah penelitian di Inggris mengungkapkan bahwa terapi-terapi tersebut diatas tidak ada yang terbukti berhasil mengubah orientasi seksual seseorang. Terapi-terapi tersebut hanya menambah penderitaan dan menyebabkan depresi bagi yang menjalaninya karena pada akhirnya yang homoseksual tetap dengan orientasi sexsualnya. Ditambahkan pula bahwa yang menyebabkan mereka mau mencoba terapi tersebut adalah tekanan dan stigma yang disebarkan oleh media dan masyarakat.

 

 

 

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com